Kematian


Panjangnya umur seseorang memang tak ada yang mengetahuinya. Tak ada yang bisa menebak atau memperkirakannya. Bahkan dokter sekalipun. Dan memang jika belum saatnya, seseorang tak akan bertemu dengan ajalnya. Baik dia dalam keadaan sesekarat apapun. 

Entah kenapa pikiranku sedang random memikirkan kematian. Yaa, ini sebuah perenungan mungkin. Atas musibah yang tak pernah disangka-sangka begitu dekat rasanya. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, telah berpulang ke Rahmatullah, sahabat adikku yang bernama Jani. Memang aku tak mengenalnya, karena dia sahabat adikku yang kini duduk di kelas 2 SMP di Manado. Maklum saja, sudah kurang lebih 2 tahun lamanya aku tidak pernah menginjakkan kaki di kota masa kecilku itu karena masa perantauan nan mulia ini, meraih gelar sarjana di Depok.

Awalnya ketika Mama menyebut-nyebut nama itu aku hanya turut berduka saja. Namun tak begitu mempedulikan. Jahatnya aku, maaf Jani. Karena kupikir Jani adalah perempuan dan bukan teman dekat adikku yang berjenis laki-laki. Tapi setelah mendengar penuturan Mama mengenai Jani dengan mata yang agak berkaca-kaca, kerongkonganku sakit. Entah kenapa rasanya jadi ingin menangis. Jani adalah sahabat adikku yang pendiam dan tidak nakal. Dia anak yang baik, setiap pagi selalu menjemput adikku untuk berangkat bareng ke sekolah mereka. Ah, begitu dekatnya sosok itu dengan adikku. Dia kerap mengisi hari-hari adikku dan keluargaku disana. Kehilangan dia rasanya pasti bagai kehilangan sahabatku sendiri, begitu pikirku. Dan kini saat memikirkannya pun air mataku ikut menitik, hha cengeng sekali aku.

Dia meninggal pada hari Sabtu sepertinya, jenazahnya baru ditemukan pada hari Minggu kemarin, tanggal 23 Desember 2012. Detik-detik terakhir kematiannya adalah ketika mereka sedang mandi di sebuah tempat wisata yang ada air terjunnya. Mungkin bermaksud merayakan akhir semester ganjil setelah pembagian raport di sekolah. Kesembilan bocah laki-laki yang masih SMP tersebut tidak ditemani oleh orang dewasa, dan naasnya musibah itu terjadi. Entah bagaimana, mungkin karena hujan hingga bebatuan disekitaran menjadi licin dan Wallahualam tujuh orang selamat dan seorang bocah selain Jani meninggal. Tapi jenazah Jani tidak ditemukan saat itu juga. Ketujuh bocah itu kemudian di tahan polisi setempat, mungkin diinterogasi dan dinasehati. Dengan bantuan tim SAR dan polisi, akhirnya pada hari Minggu jenazah Jani ditemukan.

Mamaku bersyukur sangat saat mengingat adikku sedang sakit hingga tidak ikut. Adikku ternyata diajak oleh mereka, namun karena sedang tidak enak badan, maka dia mengurungkan niat untuk ikut. Dan terimakasih sekali ya Allah, adikku terselamatkan dari musibah demikian. Namun, entah bagaimana rasanya jadi dia. Kehilangan teman baik yang selalu ada di tiap harinya. Wah, aku takkan kuat. Membayangkannya saja mataku hampir banjir. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan. Aamiiin.

Rasanya akhir-akhir ini kematian dan kesedihan hati orang yang ditinggal pergi kerap mewarnai hariku, hingga rasanya emosiku pun turut terbawa dan terguncang. Mungkin seperti teori alam bawah sadar, bahwa apa yang kubaca dan kusaksikan akan masuk ke dalam bawah sadar dan mempengaruhi perilaku dan perasaanku. Ya, begitulah, sudah 2 buku yang aku baca bercerita tentang kematian. Dalam sebuah novel ada 3 tokohnya mati muda dengan bunuh diri. Semacam efek domino, satu mati bunuh diri, mengosongkan kehidupan yang lain yang akhirnya menyusul bunuh diri. Mungkin rasa kehilangan orang-orang yang menjadi bagian dari hidup kita akan membuat nelangsa. Apalagi kedekatan hubungan yang mendalam serta ketergantungan rasa, makin membuat lubang semakin dalam. Aku pernah merasakannya dua kali, namun karena sudah lama, maka sudah terbiasa sehingga aku pun lupa bagaimana rasanya. Apalagi ketergantungan rasa itu tak terlalu dalam, dan keikhlasan akan kepergian sosok itu pun telah hadir.

Seperti dalam 2 buku yang kubaca, kita sebagai orang-orang yang ditinggalkan, tetap harus menjalani kehidupan kita. Betapa pun beratnya menjalani hidup dengan lubang di dasar hati, tetap harus dilakukan. Hidup terus berjalan ke depan, tak perlu terus melihat dan berdiam diri di belakang. Adikku ke depannya akan berumur 13 tahun, 14 tahun, 15 tahun, dan seterusnya. Sedangkan Jani, akan selalu tetap 13 tahun di umurnya yang sekarang. Adikku tetap harus menamatkan SMPnya, masih harus melanjutkan ke SMA. Meski tak bersama Jani, waktu dan kehidupan adikku, Mama Jani, Papa Jani, adik Jani, keluargaku, teman-teman Jani dan semua orang yang masih hidup akan terus berlanjut. Dan memang harus dituntaskan hingga masanya. Biarlah Jani tetap di usianya yang terakhir yang begitu belia, tetap melekat jelas kenangan akan Jani hingga penghujung usianya di memori kita masing-masing, meski banyak yang disayangkan. Jadikan apa yang tak bisa diraih Jani sebagai suatu yang harus diraih saat kita masih punya. Sehingga saat waktu kita pun habis, tak banyak yang harus disayangkan dan disesali. Selamat jalan Jani, sahabat adikku yang manis.

Kehilangan orang-orang penting dalam hidup kita, tentu akan sangat memilukan. Mungkin yang perlu ditanamkan dalam pikiran adalah mereka menuju dimensi yang lebih baik dari dimensi kita. kehidupan yang jauh lebih baik dari kita. Suatu saat kita pasti menyusulnya. Namun, yang perlu dipikirkan adalah, apakah nanti kita akan betul-betul bertemu? Apakah akan ditempatkan di tempat yang sama dan dekat? Apakah akan bersama-sama bahagia disana? Atau malah dia berbahagia dan kita sengsara atau sebaliknya? Semua orang pasti menginginkan hidup bahagia lebih dari di dunia dengan orang-orang tersayang nantinya. Tapi, tak ada yang tahu kan di'sana' akan bagaimana? lalu, apa yang harus dilakukan? Karena semua itu milik dan ditangan Allah serta Allah itu Maha Mendengar, maka kita dapat memperbanyak doa dan amalan-amalan baik lainnya. Tak hanya untuk kita sendiri, tapi untuk orang-orang tersayang yang masih di sini, maupun yang sudah di 'sana'. Allah juga Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha-Maha Lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tes Kesehatan di Manado untuk Pengangkatan PNS

Perjuangan Tuan yang Tak Terlupa

Itakiss (Part II)