L, Murid dan juga Guruku
Pandangan manusia itu terbatas. Hanya memiliki dua mata. Dan hanya bisa melihat ke depan. Tak bisa melihat ke belakang tanpa membalikkan badan. Ketika melihat ke samping kiri, kedua bola matanya menyerong ke kiri. Tak bisa yang satu melihat kiri dan yang satu melihat kanan. Begitu juga ketika melihat samping kanan. Manusia hanya bisa memandang dari satu sisi saja dalam satu waktu.
Tak hanya memandang hal yang konkret bentuknya, hal yang tak kasat mata pun seringkali dilihat oleh manusia dari satu sudut saja. Seperti memandang kaitan antara beberapa fenomena. Masing-masing individu memiliki kacamata pandangnya sendiri. Bingkainya pun berbeda-beda, dipengaruhi pengalaman pribadinya (field experience).
Itulah yang terjadi denganku kali ini. Lingkungan hidupku hingga kini yang baik-baik saja, membuat memori dan pengalaman pribadiku sebaik itu pula. Tak pernah membuatku berpikiran mengenai kenyataan akan eksistensi hal yang sebaliknya atau yang buruk-buruk. Bagaikan tinggal di gunung, dan tak tahu bahwa di dunia ada lagi tempat bernama pantai. Tapi kini aku tersadar, bahwa belahan dunia yang tak ku tahu itu nyata, tak hanya di novel-novel atau televisi saja.
Ya, kekerasan dalam rumah tangga itu ada. Fenomena anak pungut itu ada. Ibu yang kejam pada anaknya pun ada. Aku terlalu naif.
Hari Minggu kemarin, ketika aku menjadi volunteer mengajar di salah satu kampung daerah Jakarta Timur, aku bertemu dengan seorang murid yang baru kulihat diantara yang lainnya. Saat itu dia duduk sambil mengganggu teman di sampingnya yang sedang mengerjakan soal.
"Loh, kamu bukunya mana?" tanyaku padanya.
Dia tersenyum malu-malu. "Ga bawa"
"Ooh, ga bawa. Eh, kenalan dulu dong. Namanya siapa? Aku Keke" kuulurkan tangan kananku ke dekat tangannya.
"L, Ka" jawabnya sambil menyambut uluran tanganku.
"Temen-temen disini ada yang mau bagiin kertas buat L ga? Satu lembaaar aja.. Bagi dong.." pintaku ke beberapa teman disebelahnya. Salah satu murid kesayanganku merobekkan halaman tengahnya dan memberikannya padaku. "Nih, Ka"
"Ih baiknya G. Makasih ya" ucapku sambil menggenggam kertas itu. "L kelas berapa?" tanyaku beralih pada L lagi.
"Belum sekolah dia Ka" kata G padaku.
Aku menatap mata L, "ooh belum sekolah, umurnya berapa emang?"
"Enam.." jawabnya.
Aku tertegun sejenak. L berusia 6 tahun, namun dia sama sekali belum sekolah. Tak mengenyam PAUD, juga TK. Sementara anak-anak lain yang seusianya sudah duduk di bangku kelas 1 SD. Karena itu L sama sekali belum bisa membaca, menulis, apalagi berhitung.
Mulanya aku heran, tapi kemudian ku tepis pikiran itu mengingat kemungkinan kekurangan ekonomi yang dilanda keluarganya. Kemudian ku ajarkan dia berhitung satu hingga sepuluh. Lalu ku tuntun tangannya menulis huruf A dan angka 1 sampai 5. Karena muridku tak hanya dia saja, maka ku tinggal dia untuk memeriksa pekerjaan murid-muridku yang lain.
Rupanya L tak bisa tak diawasi. Ditinggal sebentar saja dia menggangu temannya yang lain, meninggalkan pekerjaannya, dan berlari keluar masuk ruangan. Maklum memang, dia masih anak-anak. Karena sibuk memberikan soal matematika pada yang lain, aku lupa akan L. Untung saja ada rekan lain yang membantu meng-handle L.
Pada menit-menit terakhir sebelum istirahat bermain, L menepuk tanganku dengan jarinya dan memberikan lembaran yang dikerjakannya.
"Wih, pinter..., tapi ini belum selesai loh" kataku.
"Udah ah, capek" ucapnya.
"Ih, tinggal dikit lagi. Sampe sini aja ya? Tuh, kan dikit lagi.. Ya? Oke?" bujukku pada L sambil mengacungkan jempol tangan kananku. L pun mengangguk. Ku usap kepalanya, "Ih, pinternya.." lalu aku kembali beralih pada murid lain yang memanggilku untuk bertanya.
Ternyata aku meleng sedikit, L sudah menghilang lagi. Dia bermain bola di luar hingga kelas selesai. Pada saat itu ada anak-anak diluar murid kami datang. Mereka berbicara kasar dan menantang L. L pun emosi dan berlari keluar hendak berkelahi. Untung teman-temanku yang lelaki menahannya dan menyuruhnya duduk. Aku bingung dengan keadaan itu. Benar-benar cepat terjadinya, sehingga aku tak sempat berpikir apa yang harus kulakukan saat itu.
Untungnya L masih bisa dibujuk. Dia pun duduk, namun rebutan tempat duduk dengan temannya. Untung saat itu aku bisa melerainya dengan menyuruh L mengalah saja duduk di bangku sebelah yang kosong. Kelas pun akhirnya bisa diakhiri.
Saat berkumpul di rumah Ibu RT selesai kelas, aku bertanya perihal L pada beliau.
"Iyah, si L mah maklum-maklum aja ya, emaknya jablay. Mana suka digebukin si L. Kasian juga Ibu. Dijewer, ditempeleng kiri kanan udah kayak nabuh gendang aja tuh. Diseret-seret kayak kambing, ckck...." jelas Ibu RT padaku dan kawan-kawan.
Aku pilu mendengar itu. Ternyata ada Ibu yang setega itu pada anaknya. Meskipun dijelaskan lagi bahwa L bukan anak kandung ibunya, tapi tetap saja. Aku pikir ibu jahat hanya berlaku pada ibu tiri Cinderella dan ibu-ibu jahat lainnya yang ada di sinetron-sinetron. Ternyata, ibu seperti itu memang ada. Beruntunglah kita memiliki ibu yang sangat menyayangi kita meskipun cerewet dan suka marah-marah.
Kata Bu RT, ibu L pernah bilang bahwa dia menyayangi L. Tapi tak seharusnya dia berlaku demikian terhadap L, kan? Kalian setuju padaku kan? Mungkin lelah dan banyak pikiran memang membuat orang cepat emosi. Tapi tak seharusnya itu dilimpahkan pada anak-anak yang tak mengerti apapun. Mereka ga salah, L tidak salah!
Jangan jadikan mereka luapan kekesalan yang memuncak. Anak yang dibesarkan dengan kekerasan sifatnya juga akan menjadi keras. L sudah menampakkan hal-hal itu. Dia kadang berkata kasar, mudah terpancing emosinya hingga ingin berkelahi, bahkan katanya dia pernah mencuri di warung tetangga. Sungguh malang L, dia berperilaku seperti itu bukan karena keinginan dia. Namun semua itu bentukan dari lingkungan dia, dimana dia dibesarkan, dan bagaimana dia dibesarkan.
Kami, tim pengajar, merasa bahwa L memerlukan perhatian khusus. Sebab itu, akan dipilih siapa pengajar yang dapat meng-handle L. Semoga siapapun kakak pengajar yang akan menjadi pembimbing L nantinya dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri L. Aaaaamiin.
Banyak hal yang kudapat dari L. Salah satunya adalah perasaan untuk lebih mensyukuri kehidupanku hingga kini. Tak hanya L, anak-anak lainnya juga. Ah, aku sayang mereka semua.
Komentar
Posting Komentar