Tes Kesehatan di Manado untuk Pengangkatan PNS
Assalamu'alaykum wr.wb.
Hai, hai. Apa kabar? Mau sedikit berbagi pengalaman nih saat tes kesehatan dalam rangka menuju PNS (Pegawai Negeri Sipil). Ceritanya panjang, jadi mohon maaf. Siapkan kesabaran yaa, hehe
-Apa-apaan nih ga ada angin ga ada hujan tau-tau sudah mau jadi PNS?-
Hehe, maafkan belum sempat berbagi cerita tentang profesi yang sedang saya geluti saat ini. Singkat cerita, saya sekarang bekerja sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Penempatan saat ini di kampung halaman Ayahanda di Manado, lebih tepatnya di Kantor Wilayah DJKN Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara. Di bulan Februari 2016 ini, saya sudah genap setahun dan sudah bisa diangkat menjadi PNS.
Syarat pengangkatan PNS pastinya lulus Prajabatan dan dinyatakan sehat jasmani rohani oleh Dokter Pemerintah. Nah, untuk prajabatan, alhamdulillah saya sudah lulus dengan susah payah penuh perjuangan berdarah-darah (lebay-tapi emang berdarah-darah sih). Tinggal tes kesehatan nih. Sebelum tes kesehatan, sempet cari-cari referensi tes kesehatan di Manado via internet, eh tapi ga nemu. Jadinya sekarang mau sharing deh, semoga bermanfaat yaa.
Sebagai CPNS yang punya TMT (Terhitung Mulai Tanggal) 1 Februari, agar pengangkatan saya berjalan dengan lancar, saya sudah diharuskan lulus baik prajab dan tes kesehatan paling lambat bulan ini, 31 Januari 2016. Tapi kemarin sempat was-was, karena dari instansi pusat saya belum ngasih surat usulan tes kesehatan sampai dengan hari Senin (25/01) kemarin. Fyi, kalau belum ada surat usulan tes kesehatan, kita sebagai CPNS ga bisa seenaknya langsung tes kesehatan, karena kalau ga ada surat pengantarnya, tes kesehatan kita ga akan bisa dibikinkan surat keterangan sehat sesuai dengan yang kita butuhkan. Jadi istilahnya harus nunggu instruksi dari Pusat dulu, baru boleh gerak, gausah sok inisiatif (ini buat instansi vertikal dari instansi Pusat, kalau instansi pemerintah daerah, mungkin beda lagi ceritanya).
Kenapa kok was-was? Soalnya saya yang tercatat sebagai CPNS golongan III ini tes kesehatannya beda dengan golongan II. Kalau golongan II bisa langsung ke Puskesmas, suratnya bisa jadi dalam sehari. Lah, kalau kami harus full medical check up di Rumah Sakit Umum. Tau lah pelayanan tes kesehatan dengan medical check up kan gabisa jadi dalam sehari. Kita musti bolak-balik dalam beberapa hari. Mana pakai biaya sendiri pula. Jadilah was-was kalau suratnya belum turun juga diakhir Januari ini, bisa-bisa kami batal diangkat sebagai PNS di tahun ini. Tapi alhamdulillah sudah beres. Bahkan surat keterangan sehat saya sudah dikirim ke Pusat.
Nah, sebenernya yang mau saya share itu tentang tes kesehatan, tapi intro-nya udah kepanjangan ya, haha maap. Saya memercayakan diri saya untuk dicek kesehatannya oleh Rumah Sakit Umum Pusat Prof. dr. R. D. Kandou, Manado. Kenapa disitu? Ceritanya panjang nih. Awalnya, RS ini adalah rumah sakit rekomendasi Ibu saya waktu dia pengangkatan PNS dulu, "Kak, pokoknya RS Kandou itu tempatnya segala macem CPNS tes kesehatan buat pengangkatan PNS di Manado. Semua yang dari Bitung, Tomohon, dan lain-lain pasti ke Kandou. Itu udah tempatnya khusus, gabisa di lain tempat", gitu katanya.
Tapi saya ga mengiyakan kata-kata Ibu saya dengan gampangnya. Saya tanya dulu ke temen-temen saya yang sesama CPNS di kantor yang sama. Rupanya ada yang sepakat di RS Kandou, tapi ada juga yang mau ditempat lebih murah RS Bhayangkara Manado. Jadi akhirnya kami bertiga pergi ke dua RS itu. Pertama di RS Kandou. RS-nya luaaas sekali. Kami sampai bingung, setelah muter-muter akhirnya ketemu juga ruang Medical Check Up. Pas sampai di sana petugasnya lagi ga ada, tapi kami sempat bertanya.
"Kira-kira kalau mau buat surat keterangan sehat untuk pengangkatan PNS ini harganya berapa ya?"
"Kalau lengkap medical check up sekitar 1 juta lebih lah dek..." wow mahalnya.
"Kalau buat surat keterangan sehat biasa tanpa medcheck?"
"Kalau itu 71 ribu aja"
Karena harganya muahal, kami akhirnya mengecek ke RS Bhayangkara. Sampai di sana, dari loket pendaftaran kami disuruh langsung ke dokternya. Pas dikasih surat pengantar, dokternya malah nanya balik,
"Ini yang mau dites apa aja ya? Kan itemnya banyak, jadi yang mana aja?". Lah, saya langsung mikir, bukannya tiap rumah sakit yang memang biasa menerbitkan Surat Keterangan Sehat untuk pengangkatan PNS harusnya sudah tau ya apa saja yang harus dicek, saya agak ragu jadinya. Terus pas saya tanya, "Kalau misalnya keseluruhan dicek harganya berapa?".
"Sekitar 750 ribu lah".
"Itu sudah termasuk tes rohani?" tanya saya lagi.
"Iya, kan dokter yang sebelah saya ini dokter psikis, nanti diwawancara juga sama dia" kata si dokter itu.
Wah, makin ga bener nih, pikir saya dalam hati. Soalnya tes kesehatan rohani yang saya tahu kan semacam jawab soal yang sekitar berapa ratus pertanyaan gitu. Kok ini malah wawancara. Saya cuma senyum aja abis itu, berarti RS Bhayangkara ga biasa nerbitin surat keterangan sehat untuk pengangkatan PNS kesimpulan saya.
Akhirnya saya dan teman-teman berunding. Karena kedua teman saya yang lain adalah CPNS golongan II, akhirnya mereka memilih Puskesmas Sario saja yang dekat kantor dan jelas-jelas cepat serta ramah dikantong. Tinggal saya sendiri deh yang besok masih harus berjuang di rumah sakit.
Esok harinya saya ke RS Kandou setelah absen dan masuk sebentar di kantor buat minta ijin ke atasan jam 07.45 WITA. Jam 8.10 WITA saya sudah ambil antrian pendaftaran di loket pendaftaran. Harus daftar dulu loh, jangan langsung ke ruang MCU. Nanti disuruh balik lagi. Pas daftar saya nunjukin KTP dan kasih surat pengantar. Lalu KTP dan surat pengantarnya dikembalikan lagi beserta dengan kartu pasien dan tanda pendaftaran MCU. Saya langsung saja secepat mungkin ke ruang MCU. Untungnya saya pasien nomor antrian 1.
"Iya, ada apa ya?" tanya petugas MCU.
"Saya yang kemarin Bu. Mau buat surat keterangan sehat buat pengangkatan PNS" saya menyerahkan surat pengantar dari kantor.
"Ooh iya. Ada bawa pas foto 4x3?"
"Oh, perlu foto ya Bu?"
"Iya, nanti suratnya begini..." Ibu petugas MCU memperlihatkan surat sehat pasien lain yang sudah jadi.
"Oooh..."
"Nanti besok dibawa ya, 4 lembar"
"Siap Bu"
Saya pikir saya langsung diperiksa di ruang MCU. Rupanya di ruangan ini saya cuma disuruh isi data dan dikasih pengantar untuk ke poli yang harus saya datangi satu-satu. Dan ternyata pembayaran di RS Kandou ini dilakukan di tiap poli. Jadi untuk buat surat keterangan sehat pengangkatan PNS, saya melalui empat poli, laboratorium, foto rontgen, poli mata, dan poli THT (telinga, hidung, tenggorokan). Untuk pembayaran laboratorium dan foto rontgen, dilakukan di MCU dengan harga Rp. 354.500,- yang tertera di dalam kwitansi. Saya diminta bayar Rp. 355.000,- mungkin karena tidak ada kembali. Padahal saya ada sih uang pas, tapi karena ditagihnya segitu, jadi gaenak mau bayar pake uang pas. Hahaha
Pertama saya menuju ke laboratorium. Ruangan yang cukup padat di pagi hari ini, saya inisiatif ambil nomor antrian dengan menekan tombol di mesin. Eh saya malah dimarahi. Rupanya jangan ambil nomor antrian. Langsung saja berikan pengantar dari MCU kepada petugas yang di informasi lab. Nunggu sebentar, terus dipanggil dan si petugas ngasih saya tempat urin yang sudah dilabeli nama saya dan beberapa label nama saya lainnya.
"Urinnya disimpan disini. Nanti dikasih label. Sisain satu label untuk ambil darah. Sisanya buat ambil hasil lab besok" kata petugasnya.
Saya langsung masuk toilet. Wah, toiletnya enak, mirip RS swasta. Toilet di lab ini beda dengan toilet di ruangan lain. Jadi nyaman lah untuk menyimpan urin, hahaha.
Setelah urin dan darah masuk laboratorium untuk diperiksa, saya ke loket pendaftaran foto rontgen. Tak lama nama saya dipanggil lalu saya melakukan foto rontgen. Di sini saya merasa aneh. Di ruangan foto rontgen, tidak disediakan tempat buka baju. Padahal kan saat foto rontgen kita harus tidak mengenakan apa-apa. Bahkan, baju biru yang biasa digunakan untuk melapisi tubuh saat rontgen pun tidak ada!
"Bu, ini baju biru yang biasa dipake ga ada ya?"
"Iya nih, biasanya sih ada, tapi gatau sekarang dimana"
Agak aneh sih menurut saya. Akhirnya saya gunakan saja kerudung saya untuk melapisi tubuh saat rontgen dilakukan. Jadi siapapun yang mau ambil foto di RS Kandou jangan kaget ya.
Setelah mengenakan kembali seluruh pakaian saya, bergegaslah saya ke poli mata. Di sini biayanya Rp 90.000,-. Jangan lupa ya untuk minta kwitansi, karena Bapak petugasnya suka lupa ngasih kalau ga diminta. Di poli ini, pertama saya dites jarak pandang mata. Lalu dites buta warna. Disini pegawai dan dokternya baik dan ramah.
Dari poli mata, saya menuju poli THT yang tak jauh disebelahnya. Di poli ini saya dikenakan biaya Rp. 52.500,-. Tes pendengarannya aneh sekaligus lucu menurut saya. Saya disuruh menghadap dinding di pojok ruangan. Lalu menutup salah satu telinga, dan mengulang apa yang para mahasiswa magang itu ucapkan dengan suara pelan.
"saya"
"saya..."
"suka"
"suka..."
"susu"
"susu..."
"sapi"
"sapi..."
Saya pernah tes pendengaran dulu, menggunakan mesin di dalam ruangan yang kecil tapi kedap suara. Di dalam situ kita diberikan headphone dan alat yang berupa tombol bisa ditekan. Setiap mendengar suara yang sangat kecil saya diharuskan menekan alat tersebut. Diluar ruangan ada petugas yang memantau lewat monitor. Bukankah seharusnya tes pendengaran seperti itu? Haha, ya sudahlah.
Saat tes pendengaran yang lucu ini, saya mau tertawa sebenarnya. Karena kata-kata yang diulang-ulang itu lucu sekali, saya suka susu sapi tapi semua suka susu sapi, entah kenapa tiba-tiba susu sapi. hahaha. Tapi saya tahan karena tidak enak, dan malu juga. Setelah itu, saya berhadapan dengan dokter yang dengan cepat memeriksa telinga dan tenggorokan saya.
Hasil tes THT dan mata yang bisa langsung didapatkan setelah pemeriksaan, langsung saya bawa ke MCU sekitar jam 11 WITA. Setelah itu saya disuruh pulang, karena hasil lab dan rontgen baru bisa diambil esok harinya. Besoknya pagi-pagi saya langsung ambil hasil lab dan rontgen. Mungkin sebenarnya kemarin hasil rontgen dan pemeriksaan lab-nya juga sudah bisa diambil. Di berkas hasil lab dan rontgen itu tertulis jam selesainya pemeriksaan, dan itu kemarin hari sekitar pukul 13.00-14.00 WITA. Kalau kemarin saya ambil hasilnya, mungkin pagi itu sudah jadi surat saya, tapi tak apa, yasudahlah yang lalu biarlah berlalu.
Berdasarkan hasil lab, saya diarahkan petugas MCU untuk ke poli jiwa (psikiater dan napza) untuk buat surat keterangan bebas narkoba. Rupanya saya harus daftar lagi dari awal, karena MCU tidak memberikan pengantar ke poli jiwa secara sistem, jadi nama saya tidak terdaftar di poli jiwa. Setelah mendaftar di loket awal, saya kembali ke poli jiwa.
"Biaya bikin surat keterangan bebas narkoba Rp 50.000,- ya dek..."
"Bu, kalo mau bikin surat keterangan sehat rohani gimana?"
"Ooh, kalo itu sih mahal... coba kamu cek dulu apa bener-bener harus surat itu atau ga..."
"Oooh gitu ya Bu"
"Iya, soalnya itu kan bisa sampai 300 ribu an. Kan ada depe tes to? Musti jawab soal berjam-jam"
"Oh iya"
"Iyo, coba ngana tanya dulu pa ngape teman laeng. Betul-betul surat itu atau nda. Kemarin ada juga noh sama deng ngana, mar pas so tanya ternyata nda perlu, jadi dia nda jadi"
"Ooh gitu ya, saya tanya dulu dang..."
Artinya si Ibu menyuruh saya tanya temen-temen lain, apakah surat sehat rohani itu bener-bener diperluin apa ga, karena mahal, dulu ada juga yang tanya surat sehat rohani, tapi ternyata dia ga begitu perlu. Saya menyingkir sebentar, lihar grup Whatsapp CPNS angkatan saya. Rupanya teman-teman yang lain sudah tes jasmani, tanpa tes rohaninya. Jadi cukuplah, saya tidak jadi ikut tes rohani. Sayang juga sudah mengeluarkan sekitar 500 ribuan, eh nambah 300 ribu lagi, luar biasa, ini akhir bulan loh. Haha
"Rupanya nda usah Bu. Cuma perlu surat sehat biasa. Jadi surat keterangan bebas narkoba jo, Bu..." saya kembali ke loket poli jiwa.
"Oh iyo dang, tunggu ne... batunggu jo di situ dulu. Mo bekeng dulu ini surat..."
Surat dibuat, saya tinggal menunggu. Cukup lama memang karena menunggu tanda tangan dokternya yang saat itu masih ada urusan lain.
"Napa dek, so jadi ini surat. Mo legalisir atau nda? Kalau legalisir tambah 10 ribu"
"Oh nda usah Bu. Terima kasih"
Lalu saya kembali ke MCU dengan membawa surat. Saat mau dikasih ke petugasnya,
"Itu simpan jo, nanti dilampirkan di surat sehat yang so jadi" ooh, rupanya surat bebas narkoba ini cuma surat tambahan. mungkin kalo ga ada juga gapapa kali ya, gaperlu tes. Tapi yaudalah gapapa jaga-jaga.
Berkas-berkas saya yang dikumpulkan petugas MCU dikembalikan lagi ke saya. Saya disuruh menunggu dokter yang ada diruangan itu untuk memeriksa saya.
"Apa ini?" tanya si dokter ketika melihat saya depan pintunya.
"Pemeriksaan fisik, dok for surat kesehatan pengangkatan PNS.." jawab si petugas
"Oh iyo, masuk jo. Duduk sini"
Lalu si dokter mulai memeriksa tekanan darah dan detak jantung saya. Lalu dia mengisi formulir pernyataan sehat sambil bertanya tentang tinggi, berat, riwayat penyakit, riwayat operasi dan lain sebagainya. Tak lama berkas saya dikembalikan beserta formulir pernyataan. Saya bawa itu ke petugas MCU.
"Besok suratnya so boleh ambe" suratnya baru bisa diambil besok rupanya.
"Yah, Bu, nda boleh jadi ini hari? Soalnya harus sebelum tanggal 29 Januari. Besok kan so tanggal 29"
"Oh, kita usahakan noh dek. Sekitar jam 1 atau jam 2. Nanti Ibu telepon kalau so jadi" saya disuruh kembali lagi nanti setelah istirahat oleh si Ibu petugas MCU.
"oh iya Bu, makasih"
Saya kembali ke kantor, kerja sebentar. Lalu tepat jam 2 siang daerah WITA saya ditelepon si Ibu surat saya sudah jadi. Saya kembali ke RS untuk mengambil seluruhnya. Rupanya yang diberikan petugas MCU hanya 2 lembar surat keterangan sehat, dan hasil rontgen. Hasil pemeriksaan lain tidak diberikan, termasuk kwitansi pembayarannya.
"Terima kasih ya Bu" saya pun pulang, tanpa memberi imbalan. Maaf ya Bu, saya mau (sok) ANTI KORUPSI dulu tanpa memberikan gratifikasi, maaf mungkin kalau sudah berharap, hehe. Saya doakan saja semoga Ibu diberikan nikmat berlebih yaa. Aaamiin
Rupanya secara keseluruhan biaya pembuatan surat keterangan sehat untuk pengangkatan PNS di RS Kandou tidak sampai sejuta lebih. Cukup Rp547.000,-. Ya dibulatkan saja jadi 550ribu, ditambah parkir Rp2.000,- bolak-balik sekitar 3-4 kali, anggap saja totalnya sekitar Rp560.000,-. Itu sudah ketambahan surat keterangan bebas narkoba, tapi diluar surat keterangan sehat rohani ya. Kalau beneran pengen tes rohani, ya silakan ditambahkan biayanya 300ribu lagi. Jadi hampir 900ribu lah.
Yang penting pada saat hendak tes itu,
Hai, hai. Apa kabar? Mau sedikit berbagi pengalaman nih saat tes kesehatan dalam rangka menuju PNS (Pegawai Negeri Sipil). Ceritanya panjang, jadi mohon maaf. Siapkan kesabaran yaa, hehe
-Apa-apaan nih ga ada angin ga ada hujan tau-tau sudah mau jadi PNS?-
Hehe, maafkan belum sempat berbagi cerita tentang profesi yang sedang saya geluti saat ini. Singkat cerita, saya sekarang bekerja sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Penempatan saat ini di kampung halaman Ayahanda di Manado, lebih tepatnya di Kantor Wilayah DJKN Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara. Di bulan Februari 2016 ini, saya sudah genap setahun dan sudah bisa diangkat menjadi PNS.
Syarat pengangkatan PNS pastinya lulus Prajabatan dan dinyatakan sehat jasmani rohani oleh Dokter Pemerintah. Nah, untuk prajabatan, alhamdulillah saya sudah lulus dengan susah payah penuh perjuangan berdarah-darah (lebay-tapi emang berdarah-darah sih). Tinggal tes kesehatan nih. Sebelum tes kesehatan, sempet cari-cari referensi tes kesehatan di Manado via internet, eh tapi ga nemu. Jadinya sekarang mau sharing deh, semoga bermanfaat yaa.
Sebagai CPNS yang punya TMT (Terhitung Mulai Tanggal) 1 Februari, agar pengangkatan saya berjalan dengan lancar, saya sudah diharuskan lulus baik prajab dan tes kesehatan paling lambat bulan ini, 31 Januari 2016. Tapi kemarin sempat was-was, karena dari instansi pusat saya belum ngasih surat usulan tes kesehatan sampai dengan hari Senin (25/01) kemarin. Fyi, kalau belum ada surat usulan tes kesehatan, kita sebagai CPNS ga bisa seenaknya langsung tes kesehatan, karena kalau ga ada surat pengantarnya, tes kesehatan kita ga akan bisa dibikinkan surat keterangan sehat sesuai dengan yang kita butuhkan. Jadi istilahnya harus nunggu instruksi dari Pusat dulu, baru boleh gerak, gausah sok inisiatif (ini buat instansi vertikal dari instansi Pusat, kalau instansi pemerintah daerah, mungkin beda lagi ceritanya).
Kenapa kok was-was? Soalnya saya yang tercatat sebagai CPNS golongan III ini tes kesehatannya beda dengan golongan II. Kalau golongan II bisa langsung ke Puskesmas, suratnya bisa jadi dalam sehari. Lah, kalau kami harus full medical check up di Rumah Sakit Umum. Tau lah pelayanan tes kesehatan dengan medical check up kan gabisa jadi dalam sehari. Kita musti bolak-balik dalam beberapa hari. Mana pakai biaya sendiri pula. Jadilah was-was kalau suratnya belum turun juga diakhir Januari ini, bisa-bisa kami batal diangkat sebagai PNS di tahun ini. Tapi alhamdulillah sudah beres. Bahkan surat keterangan sehat saya sudah dikirim ke Pusat.
Nah, sebenernya yang mau saya share itu tentang tes kesehatan, tapi intro-nya udah kepanjangan ya, haha maap. Saya memercayakan diri saya untuk dicek kesehatannya oleh Rumah Sakit Umum Pusat Prof. dr. R. D. Kandou, Manado. Kenapa disitu? Ceritanya panjang nih. Awalnya, RS ini adalah rumah sakit rekomendasi Ibu saya waktu dia pengangkatan PNS dulu, "Kak, pokoknya RS Kandou itu tempatnya segala macem CPNS tes kesehatan buat pengangkatan PNS di Manado. Semua yang dari Bitung, Tomohon, dan lain-lain pasti ke Kandou. Itu udah tempatnya khusus, gabisa di lain tempat", gitu katanya.
Tapi saya ga mengiyakan kata-kata Ibu saya dengan gampangnya. Saya tanya dulu ke temen-temen saya yang sesama CPNS di kantor yang sama. Rupanya ada yang sepakat di RS Kandou, tapi ada juga yang mau ditempat lebih murah RS Bhayangkara Manado. Jadi akhirnya kami bertiga pergi ke dua RS itu. Pertama di RS Kandou. RS-nya luaaas sekali. Kami sampai bingung, setelah muter-muter akhirnya ketemu juga ruang Medical Check Up. Pas sampai di sana petugasnya lagi ga ada, tapi kami sempat bertanya.
"Kira-kira kalau mau buat surat keterangan sehat untuk pengangkatan PNS ini harganya berapa ya?"
"Kalau lengkap medical check up sekitar 1 juta lebih lah dek..." wow mahalnya.
"Kalau buat surat keterangan sehat biasa tanpa medcheck?"
"Kalau itu 71 ribu aja"
Karena harganya muahal, kami akhirnya mengecek ke RS Bhayangkara. Sampai di sana, dari loket pendaftaran kami disuruh langsung ke dokternya. Pas dikasih surat pengantar, dokternya malah nanya balik,
"Ini yang mau dites apa aja ya? Kan itemnya banyak, jadi yang mana aja?". Lah, saya langsung mikir, bukannya tiap rumah sakit yang memang biasa menerbitkan Surat Keterangan Sehat untuk pengangkatan PNS harusnya sudah tau ya apa saja yang harus dicek, saya agak ragu jadinya. Terus pas saya tanya, "Kalau misalnya keseluruhan dicek harganya berapa?".
"Sekitar 750 ribu lah".
"Itu sudah termasuk tes rohani?" tanya saya lagi.
"Iya, kan dokter yang sebelah saya ini dokter psikis, nanti diwawancara juga sama dia" kata si dokter itu.
Wah, makin ga bener nih, pikir saya dalam hati. Soalnya tes kesehatan rohani yang saya tahu kan semacam jawab soal yang sekitar berapa ratus pertanyaan gitu. Kok ini malah wawancara. Saya cuma senyum aja abis itu, berarti RS Bhayangkara ga biasa nerbitin surat keterangan sehat untuk pengangkatan PNS kesimpulan saya.
Akhirnya saya dan teman-teman berunding. Karena kedua teman saya yang lain adalah CPNS golongan II, akhirnya mereka memilih Puskesmas Sario saja yang dekat kantor dan jelas-jelas cepat serta ramah dikantong. Tinggal saya sendiri deh yang besok masih harus berjuang di rumah sakit.
Esok harinya saya ke RS Kandou setelah absen dan masuk sebentar di kantor buat minta ijin ke atasan jam 07.45 WITA. Jam 8.10 WITA saya sudah ambil antrian pendaftaran di loket pendaftaran. Harus daftar dulu loh, jangan langsung ke ruang MCU. Nanti disuruh balik lagi. Pas daftar saya nunjukin KTP dan kasih surat pengantar. Lalu KTP dan surat pengantarnya dikembalikan lagi beserta dengan kartu pasien dan tanda pendaftaran MCU. Saya langsung saja secepat mungkin ke ruang MCU. Untungnya saya pasien nomor antrian 1.
"Iya, ada apa ya?" tanya petugas MCU.
"Saya yang kemarin Bu. Mau buat surat keterangan sehat buat pengangkatan PNS" saya menyerahkan surat pengantar dari kantor.
"Ooh iya. Ada bawa pas foto 4x3?"
"Oh, perlu foto ya Bu?"
"Iya, nanti suratnya begini..." Ibu petugas MCU memperlihatkan surat sehat pasien lain yang sudah jadi.
"Oooh..."
"Nanti besok dibawa ya, 4 lembar"
"Siap Bu"
Saya pikir saya langsung diperiksa di ruang MCU. Rupanya di ruangan ini saya cuma disuruh isi data dan dikasih pengantar untuk ke poli yang harus saya datangi satu-satu. Dan ternyata pembayaran di RS Kandou ini dilakukan di tiap poli. Jadi untuk buat surat keterangan sehat pengangkatan PNS, saya melalui empat poli, laboratorium, foto rontgen, poli mata, dan poli THT (telinga, hidung, tenggorokan). Untuk pembayaran laboratorium dan foto rontgen, dilakukan di MCU dengan harga Rp. 354.500,- yang tertera di dalam kwitansi. Saya diminta bayar Rp. 355.000,- mungkin karena tidak ada kembali. Padahal saya ada sih uang pas, tapi karena ditagihnya segitu, jadi gaenak mau bayar pake uang pas. Hahaha
Pertama saya menuju ke laboratorium. Ruangan yang cukup padat di pagi hari ini, saya inisiatif ambil nomor antrian dengan menekan tombol di mesin. Eh saya malah dimarahi. Rupanya jangan ambil nomor antrian. Langsung saja berikan pengantar dari MCU kepada petugas yang di informasi lab. Nunggu sebentar, terus dipanggil dan si petugas ngasih saya tempat urin yang sudah dilabeli nama saya dan beberapa label nama saya lainnya.
"Urinnya disimpan disini. Nanti dikasih label. Sisain satu label untuk ambil darah. Sisanya buat ambil hasil lab besok" kata petugasnya.
Saya langsung masuk toilet. Wah, toiletnya enak, mirip RS swasta. Toilet di lab ini beda dengan toilet di ruangan lain. Jadi nyaman lah untuk menyimpan urin, hahaha.
Setelah urin dan darah masuk laboratorium untuk diperiksa, saya ke loket pendaftaran foto rontgen. Tak lama nama saya dipanggil lalu saya melakukan foto rontgen. Di sini saya merasa aneh. Di ruangan foto rontgen, tidak disediakan tempat buka baju. Padahal kan saat foto rontgen kita harus tidak mengenakan apa-apa. Bahkan, baju biru yang biasa digunakan untuk melapisi tubuh saat rontgen pun tidak ada!
"Bu, ini baju biru yang biasa dipake ga ada ya?"
"Iya nih, biasanya sih ada, tapi gatau sekarang dimana"
Setelah mengenakan kembali seluruh pakaian saya, bergegaslah saya ke poli mata. Di sini biayanya Rp 90.000,-. Jangan lupa ya untuk minta kwitansi, karena Bapak petugasnya suka lupa ngasih kalau ga diminta. Di poli ini, pertama saya dites jarak pandang mata. Lalu dites buta warna. Disini pegawai dan dokternya baik dan ramah.
Dari poli mata, saya menuju poli THT yang tak jauh disebelahnya. Di poli ini saya dikenakan biaya Rp. 52.500,-. Tes pendengarannya aneh sekaligus lucu menurut saya. Saya disuruh menghadap dinding di pojok ruangan. Lalu menutup salah satu telinga, dan mengulang apa yang para mahasiswa magang itu ucapkan dengan suara pelan.
"saya"
"saya..."
"suka"
"suka..."
"susu"
"susu..."
"sapi"
"sapi..."
Saya pernah tes pendengaran dulu, menggunakan mesin di dalam ruangan yang kecil tapi kedap suara. Di dalam situ kita diberikan headphone dan alat yang berupa tombol bisa ditekan. Setiap mendengar suara yang sangat kecil saya diharuskan menekan alat tersebut. Diluar ruangan ada petugas yang memantau lewat monitor. Bukankah seharusnya tes pendengaran seperti itu? Haha, ya sudahlah.
Saat tes pendengaran yang lucu ini, saya mau tertawa sebenarnya. Karena kata-kata yang diulang-ulang itu lucu sekali, saya suka susu sapi tapi semua suka susu sapi, entah kenapa tiba-tiba susu sapi. hahaha. Tapi saya tahan karena tidak enak, dan malu juga. Setelah itu, saya berhadapan dengan dokter yang dengan cepat memeriksa telinga dan tenggorokan saya.
Hasil tes THT dan mata yang bisa langsung didapatkan setelah pemeriksaan, langsung saya bawa ke MCU sekitar jam 11 WITA. Setelah itu saya disuruh pulang, karena hasil lab dan rontgen baru bisa diambil esok harinya. Besoknya pagi-pagi saya langsung ambil hasil lab dan rontgen. Mungkin sebenarnya kemarin hasil rontgen dan pemeriksaan lab-nya juga sudah bisa diambil. Di berkas hasil lab dan rontgen itu tertulis jam selesainya pemeriksaan, dan itu kemarin hari sekitar pukul 13.00-14.00 WITA. Kalau kemarin saya ambil hasilnya, mungkin pagi itu sudah jadi surat saya, tapi tak apa, yasudahlah yang lalu biarlah berlalu.
Berdasarkan hasil lab, saya diarahkan petugas MCU untuk ke poli jiwa (psikiater dan napza) untuk buat surat keterangan bebas narkoba. Rupanya saya harus daftar lagi dari awal, karena MCU tidak memberikan pengantar ke poli jiwa secara sistem, jadi nama saya tidak terdaftar di poli jiwa. Setelah mendaftar di loket awal, saya kembali ke poli jiwa.
"Biaya bikin surat keterangan bebas narkoba Rp 50.000,- ya dek..."
"Bu, kalo mau bikin surat keterangan sehat rohani gimana?"
"Ooh, kalo itu sih mahal... coba kamu cek dulu apa bener-bener harus surat itu atau ga..."
"Oooh gitu ya Bu"
"Iya, soalnya itu kan bisa sampai 300 ribu an. Kan ada depe tes to? Musti jawab soal berjam-jam"
"Oh iya"
"Iyo, coba ngana tanya dulu pa ngape teman laeng. Betul-betul surat itu atau nda. Kemarin ada juga noh sama deng ngana, mar pas so tanya ternyata nda perlu, jadi dia nda jadi"
"Ooh gitu ya, saya tanya dulu dang..."
Artinya si Ibu menyuruh saya tanya temen-temen lain, apakah surat sehat rohani itu bener-bener diperluin apa ga, karena mahal, dulu ada juga yang tanya surat sehat rohani, tapi ternyata dia ga begitu perlu. Saya menyingkir sebentar, lihar grup Whatsapp CPNS angkatan saya. Rupanya teman-teman yang lain sudah tes jasmani, tanpa tes rohaninya. Jadi cukuplah, saya tidak jadi ikut tes rohani. Sayang juga sudah mengeluarkan sekitar 500 ribuan, eh nambah 300 ribu lagi, luar biasa, ini akhir bulan loh. Haha
"Rupanya nda usah Bu. Cuma perlu surat sehat biasa. Jadi surat keterangan bebas narkoba jo, Bu..." saya kembali ke loket poli jiwa.
"Oh iyo dang, tunggu ne... batunggu jo di situ dulu. Mo bekeng dulu ini surat..."
Surat dibuat, saya tinggal menunggu. Cukup lama memang karena menunggu tanda tangan dokternya yang saat itu masih ada urusan lain.
"Napa dek, so jadi ini surat. Mo legalisir atau nda? Kalau legalisir tambah 10 ribu"
"Oh nda usah Bu. Terima kasih"
Lalu saya kembali ke MCU dengan membawa surat. Saat mau dikasih ke petugasnya,
"Itu simpan jo, nanti dilampirkan di surat sehat yang so jadi" ooh, rupanya surat bebas narkoba ini cuma surat tambahan. mungkin kalo ga ada juga gapapa kali ya, gaperlu tes. Tapi yaudalah gapapa jaga-jaga.
Berkas-berkas saya yang dikumpulkan petugas MCU dikembalikan lagi ke saya. Saya disuruh menunggu dokter yang ada diruangan itu untuk memeriksa saya.
"Apa ini?" tanya si dokter ketika melihat saya depan pintunya.
"Pemeriksaan fisik, dok for surat kesehatan pengangkatan PNS.." jawab si petugas
"Oh iyo, masuk jo. Duduk sini"
Lalu si dokter mulai memeriksa tekanan darah dan detak jantung saya. Lalu dia mengisi formulir pernyataan sehat sambil bertanya tentang tinggi, berat, riwayat penyakit, riwayat operasi dan lain sebagainya. Tak lama berkas saya dikembalikan beserta formulir pernyataan. Saya bawa itu ke petugas MCU.
"Besok suratnya so boleh ambe" suratnya baru bisa diambil besok rupanya.
"Yah, Bu, nda boleh jadi ini hari? Soalnya harus sebelum tanggal 29 Januari. Besok kan so tanggal 29"
"Oh, kita usahakan noh dek. Sekitar jam 1 atau jam 2. Nanti Ibu telepon kalau so jadi" saya disuruh kembali lagi nanti setelah istirahat oleh si Ibu petugas MCU.
"oh iya Bu, makasih"
Saya kembali ke kantor, kerja sebentar. Lalu tepat jam 2 siang daerah WITA saya ditelepon si Ibu surat saya sudah jadi. Saya kembali ke RS untuk mengambil seluruhnya. Rupanya yang diberikan petugas MCU hanya 2 lembar surat keterangan sehat, dan hasil rontgen. Hasil pemeriksaan lain tidak diberikan, termasuk kwitansi pembayarannya.
"Terima kasih ya Bu" saya pun pulang, tanpa memberi imbalan. Maaf ya Bu, saya mau (sok) ANTI KORUPSI dulu tanpa memberikan gratifikasi, maaf mungkin kalau sudah berharap, hehe. Saya doakan saja semoga Ibu diberikan nikmat berlebih yaa. Aaamiin
Rupanya secara keseluruhan biaya pembuatan surat keterangan sehat untuk pengangkatan PNS di RS Kandou tidak sampai sejuta lebih. Cukup Rp547.000,-. Ya dibulatkan saja jadi 550ribu, ditambah parkir Rp2.000,- bolak-balik sekitar 3-4 kali, anggap saja totalnya sekitar Rp560.000,-. Itu sudah ketambahan surat keterangan bebas narkoba, tapi diluar surat keterangan sehat rohani ya. Kalau beneran pengen tes rohani, ya silakan ditambahkan biayanya 300ribu lagi. Jadi hampir 900ribu lah.
Yang penting pada saat hendak tes itu,
- bawa SURAT PENGANTAR dan KTP, kalau sudah pernah jadi pasien bawa KARTU PASIEN
- bawa PAS FOTO 3x4 (4 lembar) *warna atau hitam putih terserah, kalau saya sih warna
- DATANG PAGI *sebelum jam 8 lah kalau bisa biar cepet, apalagi kalau datangnya rombongan, jangan lupa DAFTAR dulu di LOKET REKAM MEDIS, loket pendaftarannya banyak soalnya, di tiap poli namanya loket pendaftaran, awalnya saya juga bingung muter-muter, rupanya loket pendaftaran utamanya namanya bukan loket pendaftaran. Oiya, loketnya jam 12.00 WITA sudah tutup yaa.
- bawa uang pecahan biar bisa bayar pas hehehe.
Catatan penting, seluruh kegiatan di RS Kandou kayaknya sudah melemah di atas jam istirahat. Pelayanan-pelayanan jangan ditanya, sudah payah, kalau loketnya belum tutup, petugasnya yang sudah tidak ada. Jadi upayakan 4 jam (08.00 - 12.00 WITA) kalian dengan maksimal yaa. Jangan lambat-lambat. Jangan malu bertanya dan memohon pelayanan yang cepat meski ada beberapa petugasnya yang jutek-jutek bikin greget sebel sih. Sudah menjadi HAK kita sebagai pelanggan/pasien adalah mendapatkan layanan yang optimal setelah menjalankan kewajiban kita membayar. KEWAJIBAN pihak rumah sakit adalah untuk memberikan layanan yang optimal itu, Sekian berbaginya kali ini. Semoga bermanfaat dan semoga yang mau tes kesehatan diberikan kemudahan dan kelancaran. Aaamiin. Selamat berjuang!
Wassalamu'alaykum
Assalamualaikum.
BalasHapusMau tanya mbk..apakah nama rumah sakit sesuai rujukan dari kantor atau bisa memilih sendiri?
Makasih
Wa'alaykumsalam wr.wb maaf nih telat banget yaa balesnya. Ternyata komentarnya ga ada notifikasinya.. 🙏🙏
HapusRumah sakitnya bebas kok, ga ada rujukan dari kantor. Cuma coba ditanya di instansi masing2 juga ya. Takutnya beda instansi beda kebijakan :) semoga infonya membantu
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPermisi mba
BalasHapusMau tanya, Kebetulan saya skrg cpns kemenkeu hehe
Klo utk cpns golongan II test kesehatan nya apa aja ya? Ada rontgen nya juga kah!? Makasih..
Hai, salam kenal. Kemenkeu di Manado juga kah? Jangan-jangan kita satu instansi hihi..
HapusKalo di tahun 2016 cpns golongan 2 ga perlu rontgen kok. Temenku tes di puskesmas, karena lebih murah. Tapi mohon maaf aku kurang tau kebijakan tahun ini gimana. Mungkin lebih jelasnya bisa ditanyakan ke instansi pusatnya lagi. 🙏🙏
Semoga infonya membantu yaa
Asslmkm. Mba maaf mau tnya.
HapusSaya CPNS Kemenkumham 2017 kmren.
Klo utk Golongan II sperti saya ini tes kesehatannya apa aja untuk pengangkatan PNS?
Trus ada ga sakit yang bisa membatalkan pengangkatan PNS.
Seperti HIV kan pasti, klo Hepatitis atau lainnya gmna? Sepengatahuan mbak nya ya.
Mhon bles di wa 0812 728 3195
Tkut nya ga buka ini lagi.
Waalaykumsalam, mohon maaf yaa baru membalas 🙏
Hapusga ada notifikasi komentarnya 😢😢
untuk golongan II setauku bisa hanya periksa di puskesmas setempat, dengan surat keterangan sehat yang ditandatangani dokter pemerintah (dokter dengan NIP).
karena periksa di puskesmas cenderung lebih mudah namun kurang lengkap, jadi memang biasanya ga ada pengecekan HIV TBC Hepatitis dll yg membutuhkan tes laboratorium atau rontgen jadi ga ketauan sakit yang semacam itu.
Umumnya sih orang dengan penyakit demikian kondisi fisiknya tidak optimal bahkan pada saat tes kesehatan untuk seleksi CPNS, dan itu berarti kemungkinan peserta tersebut sudah tidak lolos.
Tapi kan jarak pengumuman lolos CPNS dan pengangkatan PNS bisa setahunan, kalo misalnya penyakitnya baru ketahuan saat tes sekarang, dokter pasti ga akan mengeluarkan surat keterangan sehat bagi orang yang berpenyakit.
Dan kalo ga ada surat sehat, persyaratan pengangkatan ga lengkap, ga bisa diangkat.
Semoga infonya membantu yaa 🙏
Mbak mau nanya. Setau mbak pernah ada gak yg gagal di tes kesehatan? Kalo ada, apa emang gak ada toleransi ya?
BalasHapusHalo, di sekitarku sih ga pernah denger ada yg gagal saat periksa kesehatan menuju pengangkatan PNS yaa. Karena kondisi fisiknya pada bener-bener sehat sesuai hasil pemeriksaan dokter.
HapusDan yang jadi persyaratan pengangkatan PNS kan surat sehat yg ditandatangani dokter pemerintah. Kalo ada penyakit, dokter pemerintah seharusnya ga akan mau ngeluarin surat sehat karena mereka udah disumpah.
Dan karena ga ada surat sehat persyaratan ga lengkap, berarti bisa ga diangkat sebagai PNS. 🙏
Logisnya sih begitu, sepemahamanku.
Apalagi pada saat seleksi CPNS ada tes kesehatan, kalo memang ketahuan ga sehat sebelumnya, ya ga lolos kan harusnya.
semoga infonya membantu yaaa 🙏
Permisi saya mau tanya, mudah2an ada sedikit pencerahan. Kalo untuk syarat pengangkatan dari cpns menjadi pns untuk gol IIIA itu kalo seumpama terdapat cacat fisik seperti yg saya alami (mata malas/amblyopia) apakah dapat menyebabkan saya gagal memenuhi syarat untuk diangkat menjadi pns? Fyi, posisi yang saya ambil adalah analis hukum, dan cacat fisik itu sebetulnya tidak kentara (terlihat normal), dan berhubung saya sudah lama mengidap cacat tsb sehingga saya tidak merasa cacat tsb mengganggu/menghambat aktivitas/kinerja saya. Apakah cacat tsb bisa membuat saya gagal diangkat sbg pns ataukah masih bisa ditolerir?
BalasHapusMohon jawabannya, terima kasih.
halo, mohon maaf baru balas yaa..
Hapusmenurutku kalo jabatannya analis hukum, sepertinya ga terlalu bermasalah yaa. tapi tergantung dokter juga, apa bisa dikategorikan sehat dan diberikan surat sehat. karena yang menggagalkan/membuat tertunda itu hanya persyaratan yang tidak lengkap, salah satunya surat sehat.
semoga jawabannya dapat diterima yaa.
mau nya kk
BalasHapusklo seandainya peserta cpns buta warna parsial gmn kk?
apakah bisa lulus y?
halo, maaf baru balas. menurutku tergantung dari jabatannya yaa, kalo ga berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi, masih bisa ditolerir sepertinya. tapi tergantung dokter juga, mau mengeluarkan surat sehatnya atau tidak. semoga jawabannya dapat diterima yaa
HapusMba klo skolisis untuk jabatan dosen kira" lolos gak ya. Selama ini sih gak ganggu performa saya dlm mengajar.
BalasHapusHalo sy juga skoliosis inih.. Gmna ya
HapusYa ampuun, maaf sekali baru balas.. udah lama ga nyentuh blog :"((
Hapussetau saya untuk skoliosis ga ada masalah yaa, karena ga ada pengecekan terkait hal tersebut
Rontgennya dari kepala sampai kaki kak? Mohon dibalas ya. Terimakasih
BalasHapusmaaf yaa baru balas.. rontgen nya cuma badan kook..
Hapusmba mau nanya, pemeriksaan darah nya apa aja ya mna? tks
BalasHapushai, maaf baru balas :(( untuk pemeriksaan darahnya seperti pada umumnya, diambil di pembuluh darah vena. sepertinya ini adalah tes darah yang sepaket dengan MCU. Biasanya kalo tanya langsung ke RS mereka pasti sudah paham paket apa saja yang diambil.
HapusSiang kk, mau bertanya boleh dituliskan secara rinci apa saja tes kesehatannya untuk pns gol III
BalasHapushaai. silakan dibaca yaa, itu sudah saya tuliskan secara detil tahap demi tahap yang saya lalui saat tes di RS Kandou Manado
Hapuskalau mata bw parsial kira2 lolos gak ya..?
BalasHapushaaii, sepertinya kalo untuk mata parsial kembali lagi ke jabatan atau instansi yang dipilih, apakah membolehkan atau tidak. Secara umum sih, biasanya tidak jadi masalah kalo persoalan kesehatan mata.
Hapustetapi jika mendaftar jabatan tertentu yang persyaratannya membutuhkan mata normal, kemungkinan akan jadi bahan pertimbangan instansi.
Assalamu'alaikum Kak. Sebelumnya sukses selalu ya. Kemarin Alhamdulillaah saya lulus SKD ranking 1 dan sekarang sedang menunggu test SKB.
BalasHapusTapi saya punya kekhawatiran kena HIV kak. Menurut kakak penderita HIV bisa jadi PNS? Mengingat sekarang pengoabatan HIV sudah sangat canggih dan ODHIV InsyaAllah bisa hidup normal. Dan apakah kemarin hasil test darah nya kk juga menampilkan daftar virus yang di cek ? Terimakasih jawabannya, Kak.
Wa'alaykumsalam wr.wb
Hapussemoga hanya dugaan yaa. syafakallah, semoga Allah sembuhkan. Untuk kasus CPNS HIV saya sendiri belum pernah dengar. Mungkin kembali lagi tergantung instansinya menerima atau tidak yaa. Bisa ditanyakan langsung ke bagian kepegawaian, ataupun dicek peraturan terkait.
Kalo untuk tes saya waktu itu tidak ada pengecekan HIV, hanya tes narkoba saja. Dan kalo positif narkoba sudah pasti gugur, karena kan tidak bisa mendapat surat keterangan bebas narkoba. dan pasti akan ditindaklanjuti oleh kepolisian setempat
Maaf kak mau tanya. Untuk tes fisik apakah dicek keseluruhan badan? Kayak varises terus ambeien gitu?
BalasHapushaii, untuk tes fisik pengangkatan CPNS ke PNS di RS Kandou, apa aja yang dicek udah aku ceritain sebenernya di atas. mungkin kamu kelewatan kali yaa.
Hapustapi kalo untuk varises dan ambeien itu sepertinya kasus khusus yaa. secara umum sih ga dipermasalahkan. kecuali mendaftar dengan jabatan atau di instansi tertentu yang ada persyaratan khusus tidak varises, maka bisa jadi bahan pertimbangan untuk tidak meloloskan.
coba dicek lagi peraturan terkait di instansi yang kamu lamar. :)
hallo ka, aku mau nanya tapi maaf kalo oot. apakah rangkaian tes kesehatan saat pemberkasan sama dgn rangkaian tes kesehatan pengangkatan pns? terus apakah rabun jauh berpengaruh terhadal lulus/tidaknya cpns? mohon jawabannya ya ka
BalasHapushallooo.. aku coba jawab satu-satu yaa
Hapusuntuk tes kesehatan pemberkasan dan tes kesehatan pengangkatan pns itu sepemahamanku tesnya mirip, akan tetapi jangka waktunya berbeda. karena kan jarak antara pemberkasan dan pengangkatan itu paling cepat setahun, sehingga harus dicek lagi kondisi kesehatannya, karena surat keterangan sehat yang dulu sudah ga berlaku lagi kan. dan siapa tau ada perubahan kondisi kesehatan, jadi dicek lagi memungkinkan untuk diangkat pns atau tidak.
untuk rabun jauh, aku sendiri penderita rabun jauh. alhamdulillah waktu itu lolos aja. secara umum kesehatan mata tidak terlalu jadi masalah. akan tetapi beda ceritanya kalo daftar jabatan yang mengharuskan mata normal. jadi dicek lagi aja persyaratan jabatan dan peraturan terkait di instansi yang dilamar yaa.
semoga jawabannya membantu
kak mau tanya ada tes ambeiennya nggak? soalnya sya punya ambeien yg cukup parah takutnya tdk lolos medchecknya
BalasHapushaai secara umum tes ambeien ini tidak aku alami yaa. tapi beda ceritanya kalo kamu daftar di jabatan/instansi yang persyaratannya tidak membolehkan ambeien, dan mungkin akan ada tes khusus tentang itu.
Hapuscoba dicek lagi aja persyaratan jabatan atau peraturan terkait di instansi yang kamu lamar. semoga ambeiennya cepet pulih yaaa. rajin makan sayur dan buah-buahan. semangaaat
Halo ka, terima kasih ceritanya menarik sekali. Ka maaf mau tanya apakah kaka pernah dengar ada yg tdk lolos tes kesehatan krn ada riwayat flek pada parunya (pernah infeksi paru tapi sudah lama dan ada bekasnya). Atau mungkin pendapat kaka bgmn? Terima kasih ka
BalasHapus