Assalamu'alaykum wr.wb.
Bismillahirrahmaanirrahiim, sekadar curahan hati, semoga bermanfaat bagi yang membaca..
Rabu, 8/7/15 silam, mushola di kantorku kedatangan Imam asal Palestina bersama dengan rombongan relawan Sahabat Al Aqsa. Aku lupa namanya, mukanya pun tak tampak jelas karena aku lupa mengenakan kacamataku saat itu. Beliau menjadi muadzin sekaligus imam shalat zuhur berjamaah. Seusai shalat, beliau bercerita pada kami bagaimana kondisi saudara-saudari kami di Palestina (dalam dua bahasa, sedikit Inggris dan banyak Arab, yang diterjemahkan oleh seorang relawan ke dalam bahasa Indonesia).
Malu bercampur sedih bergemuruh dalam dadaku. Ya Allah, aku malu.. Aku malu karena kurang bersyukur. Di Indonesia aku bisa hidup dengan tenang, tanpa ada pertumpahan darah, tanpa ada ancaman. Hak untuk hidup, tinggal, dan beribadah, aku dapatkan dengan baik. Beda sekali dengan mereka, diusir dari rumahnya sendiri. Mau beribadah di masjid Al Aqsa milik mereka sendiri pun sulit. Disini, masjid ada dimana-mana, yang bahkan kadang sepi jamaah (alhamdulillah ramai di bulan Ramadhan :)).
Aku sungguh malu.. aku masih hanya memikirkan hidupku sendiri dan juga hal-hal sepele. Padahal hidupku masih sangat jauh lebih baik dari saudara-saudari disana, tapi aku masih mengeluh. Mengeluhkan kapan penempatan kerja, kapan rapelan turun, yang sebenarnya tak sebanding dengan penantian mereka akan kemerdekaan yang sudah sekian lamanya. Mereka tak pernah menyerah, selalu berusaha dan berdoa.
Aku sungguh malu.. semangat mereka datang dari iman, mereka berpegang teguh pada Al-Quran. Lah, apalah aku, yang bahkan melakukan sesuatu kadang bukan karena Allah, dan bahkan setengah hati. Diberikan kebebasan beragama dan beribadah, tapi masih ku kesampingkan pedoman utama hidupku itu, dibanding hal lainnya. Astaghfirullah. Bahkan bagi mereka, adalah aib apabila dalam satu keluarga mereka tak ada minimal satu penghapal Quran. Tertohok aku untuk kesekian kalinya, hafalanku yang sedikit saja bahkan sudah banyak hilangnya.
Pesan beliau, jangan pernah tinggalkan Quran sebagai pegangan hidup. Memang sudah bukan saatnya lagi memikirkan diri sendiri dan berkutat dengan dunia saja. Semoga aku bisa mencontoh mereka. Aaaamiin.
Mari lebih mensyukuri hidup kita. Mari berubah menjadi lebih baik.
Mari saling bantu sesama, saling mendoakan. Mereka butuh kita. Saudara-saudari muslim kita membutuhkan kita.
Komentar
Posting Komentar