Detik-detik menuju MEA 2015

Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau pasar bebas ASEAN 2015 membawa perasaan tersendiri bagi bangsa Indonesia, baik pemerintah maupun masyarakat. Ada yang menyebutnya sebagai ancaman, ada pula yang menganggap sebagai tantangan menarik bagi Indonesia. Dengan penerapan MEA 2015, perusahaan barang dan jasa dari negara-negara ASEAN dapat masuk ke sesama negara ASEAN lainnya dengan bebas. Artinya, komoditi dari berbagai negara ASEAN bersaing dengan komoditi olahan pribumi di pasar masyarakat ASEAN termasuk pasar dalam negeri. Memang nantinya produk dalam negeri bisa dengan mudah dipasarkan ke ASEAN, namun apakah produk Indonesia dapat bersaing di pasar ASEAN dari segi kualitas dan harga? Itulah poin utama ancaman dan tantangan yang diihwalkan terkait MEA 2015.

Oleh karena itu, dalam rangka menghadapi MEA 2015 yang akan dimulai pada Desember mendatang, Indonesia melakukan berbagai persiapan. Pemerintah menerapkan berbagai program untuk meningkatkan daya saing masyarakat Indonesia. Setiap lembaga yang terkait, seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, Bank Indonesia, Kementerian Koordinator Perekonomian dan lembaga-lembaga lain, di tahun 2014 kemarin telah berupaya keras mengkaji apa yang harus dilakukan bangsa ini ke depannya. Termasuk juga Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (yang sekarang menjadi hanya Kementerian Pariwisata) dibawah kepemimpinan Ibu Menteri Mari Elka Pangestu telah membuahkan Cetak Biru Ekonomi Kreatif 2015-2025. Buku tersebut berisi potensi-potensi ekonomi kreatif Indonesia yang bisa bersaing di pasar bebas ASEAN maupun internasional, subsektor dan ekosistem ekonomi kreatif, serta arah pemberdayaan ekonomi kreatif ke depannya.

Selain buku, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media Desain dan IPTEK (Ditjen EKMDI) juga telah membentuk inkubator bisnis kreatif digital yang sedang marak berkembang di dunia bisnis bagi masyarakat Indonesia. Inkubator-inkubator ini diharapkan mampu untuk memfasilitasi dan membimbing para start up bisnis kreatif digital Indonesia agar mampu menjalankan, mengembangkan, dan bersaing di pasar. Inkubator pertama yang sudah aktif semenjak Januari 2014 silam, Pusat Kreatif Bandung, berlokasi di Jl. Batik Kumeli No. 50, Sukaluyu, Bandung. Pada Oktober 2014 lalu, Ditjen EKMDI Kemenparekraf juga telah meresmikan inkubator kedua, yaitu Pusat Kreatif Digital Depok yang bertempat di Jl. Margonda Raya No. 63, Depok. Kedua kota ini dipilih karena potensi komunitas dan masyarakat yang besar akan bisnis kreatif digital, didukung oleh infrastruktur yang menunjang, serta jarak yang dekat dengan perguruan tinggi agar dapat berpartisipasi dalam memberi maupun mendapatkan manfaat dari inkubator tersebut. Saat ini, Pusat Kreatif Bandung telah melakukan inkubasi terhadap start up terpilih, sementara Pusat Kreatif Digital Depok masih melaksanakan seleksi inkubasi.

Inkubator bisnis digital kreatif dari Kemeparekraf memang jumlahnya masih sedikit dibandingkan banyaknya permintaan dari kota-kota kreatif Indonesia yang diterima. Seiring berjalannya waktu, jumlah dari inkubator bisnis digital kreatif ini akan terus ditambah. Apalagi memang inkubator bisnis Indonesia jumlahnya masih ketinggalan jauh dibandingkan dengan negara lain. Indonesia hanya memiliki 80 inkubator bisnis di seluruh wilayahnya, sementara di Cina jumlahnya sudah mencapai kurang lebih 1000 inkubator.

Selain inkubator, Ditjen EKMDI Kemenparekraf juga mengadakan workshop-workshop terkait bisnis kreatif digital untuk mempersiapkan MEA 2015. Sekarang ini, bisnis kreatif digital memang memiliki potensi besar karena sedang diganderungi oleh masyarakat melek teknologi. Seperti halnya bisnis buku digital. Penggunaan teknologi berbentuk gadget di masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap perilaku sehari-harinya, salah satunya perilaku membaca. Keinginan masyarakat yang cenderung ke hal-hal ringkas dan cepat membuat membaca buku dalam bentuk kertas 3 dimensi sebagai hal yang menyusahkan. Oleh sebab itulah buku digital menjadi solusi yang pas. Workshop yang dilaksanakan akhir tahun kemarin oleh Ditjen EKMDI juga mengenai industri buku digital atau penerbitan elektronik. Selama 3 hari, dari tanggal 28-30 November 2014, bertempat di Hotel Horison Bogor, para peserta workshop yang terdiri dari pelaku-pelaku industri penerbitan cetak disuguhkan edukasi mengenai metode bisnis buku digital. Bagaimana cara produksi dan distribusi produk buku digital diajarkan oleh pelaku-pelaku industri penerbitan elektronik Indonesia yang sudah lebih berpengalaman dan sukses.

Sayangnya, apa yang telah dilakukan Ditjen EKMDI tahun lalu bagai berminyak tapi tak licin. Belum begitu terlihat dampaknya, tapi sudah berhenti ditengah-tengah. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh perubahan arah fokus pemerintahan baru Jokowi-JK ke arah pembangunan infrastruktur, berbeda dengan pemerintahan sebelumnya -SBY-Boediono- yang memprioritaskan pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Perubahan fokus ini terlihat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pemerintah tahun ini yang menyisihkan sebagian besar jumlahnya terhadap pembangunan, juga dengan diubahkembalinya nama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi Kementerian Pariwisata saja. Sebagai gantinya, wewenang pengembangan ekonomi kreatif dilimpahkan kepada sebuah badan baru yang sengaja dibentuk, yaitu Badan Ekonomi Kreatif (BEK) yang saat ini dikepalai oleh Triawan Munaf. Dengan beralihnya pengembangan ekonomi kreatif ke tangan BEK, kesempatan untuk membuat segala aturan-aturan terkait ekonomi kreatif menjadi tidak ada, mengingat Kementerian lah yang dapat membuat undang-undang sementara Badan tidak.

Hingga saat ini, isu terkait MEA 2015 sudah tak lagi santer terdengar di media. Entah karena persiapan pemerintah yang sudah matang atau sebaliknya, atau karena perubahan fokus pemerintahan baru. Yang terpenting adalah semoga gembar-gembor persiapan pemerintah di tahun lalu tidak hanya sekadar proyek yang harus selesai saja dan tak berdampak. Semoga proyek-proyek persiapan yang telah dilakukan dapat memberikan impact besar pada perekonomian Indonesia ketika MEA telah berlangsung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tes Kesehatan di Manado untuk Pengangkatan PNS

Perjuangan Tuan yang Tak Terlupa

Itakiss (Part II)